Dua Perempuan Hebat yang Memilih Jualan Pakaian


Tiba-tiba, menjelang pagi ini saya terbayang dua sosok perempuan hebat dan ingin menuliskan tentang keduanya. Karena belum mendapat izin, maka saya samarkan nama mereka.

Perempuan pertama adalah ibu rumah tangga dengan satu orang anak. Suaminya bekerja di sebuah pabrik. Sayangnya, ketika pandemi, jadi salah satu orang yang dirumahkan. Dan akhirnya ia bekerja serabutan. Mereka tinggal di sebuah kontrakan. Dan hampir terusir dari kontrakan karena belum bayar uang sewa dua bulan. Nama perempuan ini, sebut saja mbak Daster. 

Pertemuan dengannya terjadi ketika saya tengah silaturahmi ke teman yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Mbak daster. Teman saya cerita kalau ada orang yang lagi butuh kerjaan. Ketika saya bilang, "ajak aja ngobrol dan ngopi ke sini," tak lama, sepasang suami istri dan seorang anak kecil datang. 

Awalnya, si laki-laki bilang ingin cari kerja. Kerja apa saja yang penting halal. Ketika saya tanya apakah bisa jahit, ia jawab tak bisa. Bisa mengoperasikan mesin-mesin perjahitan, ia bilang belum ada pengalaman kerja di dunia konveksi atau garment. Lalu kami pun bicara alternatif pekerjaan lain yang mungkin bisa dilakukannya. 

Hingga akhirnya saya cerita soal peluang usaha. Itupun awalnya ia tanggapi dengan serius, bahwa ia tidak punya modal. Aset satu-satunya hanya sepeda motor yang tak bisa dibawa pergi jauh-jauh lantaran pajak yang "mati" bertahun-tahun. Di saat itulah, istrinya nyeletuk: "emang modal awal buat jualan pakaian, berapa bang? Saya ada sisa uang 600.000,-. Itu pun buat makan dan pegangan sehari-hari. Karena buat bayar kontrakan gak cukup. Kalau setengahnya bisa gak?" Suaminya  kaget. Mungkin juga pusing. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya. 

Saya pun bilang bisa. Sangat bisa. Dua ratus ribu bisa dapat celana kolor anak satu kodi, dua puluh potong. 

Suaminya langsung memotong pembicaraan. "De, kamu yakin? Resikonya gimana? Kalau gak laku gimana? Kamu kan gak pernah jualan," ucap suaminya. 

"Pakaian itu gak basi. Gak kayak jual makanan yang kalau gak laku, basi. Lagian, pakaian itu kebutuhan. Kalau gak dicoba, ya kita gak tau bang hasilnya gimana," tegas sang istri. 

Akhirnya singkat cerita, dengan 200.000,- ia membeli celana kolor anak dari saya. Tapi, karena melihat kesungguhan si perempuan, akhirnya saya tambahkan sekodi daster untuk ia dagangkan. Tentu saja daster ini, mesti ia setor setelah laku. 

Seminggu berlalu. Teman saya menghubungi dan mengabarkan bahwa suami istri itu minta disuplai kolor dan daster lagi. "Dagangannya laku dan abis," terang teman saya. Saya pun berangkat ke tempatnya. Dan benar saja, ketika sampai ke kontrakannya, mbak Daster menyetor uang daster. Lalu membeli sekodi celana kolor, tunai. Saya pun menyuplai kembali.

Hal itu terjadi setiap Minggu. Ya, seminggu sekali, Mbak Daster dan suaminya membeli stok celana kolor dan daster. Awalnya hanya sekodi celana kolor anak, saat ini setelah hampir setahun, mereka punya toko kecil di kontrakannya, dan saya suplai pakaian (kolor, daster, kulot, dan gamis) ke mereka lebih dari 10 kodi perminggu. 

Di suatu kesempatan, saya tanya bagaimana cara mereka jualan. Sang suami bilang: "istri saya yang jualan. Keliling kampung dan komplek. Kadang buka lapak di pasar malam, bazar, atau di tempat-tempat pengajian. Saya hanya nganterin." Istrinya pun menimpali: "hari pertama jualan, gak ada yang beli. Hari kedua hanya tiga orang. Hari ketiga baru mulai banyak yang beli. Alhamdulillahnya, karena bukan barang basi kayak makanan, kolor dan daster abis di hari keempat. Dan Alhamdulillah jualan dua Minggu, keuntungannya bisa buat bayar kontrakan."

Itu cerita perempuan pertama. Perempuan yang kedua, ibu rumah tangga juga. Sebut saja namanya ibu Gamis. Suaminya bekerja sebagai karyawan swasta. Anak mereka sudah tiga. Paling besar usia SMA. Secara ekonomi, gaji sang suami bisa dibilang cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, sebenarnya tak ada soal. Tapi ternyata, Ibu Gamis menginginkan pemasukan uang yang lebih. Sebab katanya, kalau ada urusan mendadak, atau ingin jalan-jalan, mesti mikir dua-tiga-empat-lima kali. 

Ibu Gamis ini sudah lama ingin mencari alternatif yang bisa nambahin pemasukan keuangan buat keluarga. Karena ia ibu rumah tangga, dan sudah banyak pekerjaan di rumah, ia pun memilih untuk jualan. Ia pernah jualan makanan. Sayangnya, lagi-lagi resiko basi selalu ia hadapi. Ia ingin jualan barang tidak basi. Resikonya sedikit tapi untungnya lumayan. 

Suatu hari ibu Gamia mengirim pesan lewat WA. Ia tahu nomor saya dari temannya. Ia tanya ada pakaian apa saja dan harganya berapa. Saya pun jawab seadanya. Ia pun bilang ingin coba sedikit dulu. Setelah sepakat, saya pun kirim sekodi gamis. 

Singkat cerita, dua Minggu kemudian, ia WA saya lagi. Minta dikirim dua kodi. Terus berulang. Hingga saat ini, setiap Minggu ia minta dikirim 10-15 kodi gamis dengan model berbeda-beda. "Biar pelanggan, banyak pilihan," terangnya. 

Suatu hari ketika saya silaturami, ruang tamu rumahnya seakan menjadi toko. Stok gamis jualannya ia simpan di situ. Tak hanya gamis saja. Jilbab, setelan Koko anak, gamis anak, kulot, tunik, dan lain-lain pun ada di situ. Ditambah, ada tiga orang perempuan yang tengah sibuk mengemas dan merapikan pakaian-pakaian dalam sebuah paket yang siap kirim. Di depan rumahnya pun terpajang spanduk nama sebuah brand. Ya, empat bulan belakangan, Ibu Gamis meminta ke saya dibuatkan label untuk setiap pakaian yang dia minta ke saya. Tentu saja label miliknya sendiri. Setiap Minggu pula ia mengirim model dan desain pakaian, terutama gamis, yang kemudian saya produksi.

Ibu Gamis cerita, awalnya ia tawarkan saudara-saudara, teman-teman di group WA, hingga ibu-ibu di pengajian lingkungan. Dan tak disangka, saat ini ia pun punya beberapa reseller yang menjual pakaian dagangannya. 

....

Ya, kedua perempuan ini adalah perempuan hebat. Sibuk dengan pekerjaan rumah, tak membuat mereka lelah membantu suami untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Lewat usaha. Lewat jualan pakaian yang kata mereka tak basi produknya dan lumayan hasilnya. 

Ya, jualan pakaian memang bisa jadi alternative income buat siapapun. Asal mau memulai saja.

Sawangan Baru, 15122021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara "ro-a", "nazhoro", dan "bashoro" dalam Nahi Munkar (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-5)

Keberuntungan (antara Al-Falaah, al-fauz, al-bisyr, dan al-jaza)

Antara Maksiat dan Kemungkaran dalam Nahi Munkar (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-6)