Postingan

Menampilkan postingan dengan label al-falah

Antara "ro-a", "nazhoro", dan "bashoro" dalam Nahi Munkar (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-5)

Sementara untuk kemungkaran yang sudah terjadi dan dilakukan, maka yang perlu dilakukan adalah mengubahnya. Nah terkait hadits "man roa minkum munkaron....", Ada beberapa hal yang menarik yang terkait dengan mengubah ini. Pertama, ada diksi "ro-a" (رأى) yang bisa diartikan melihat. Menariknya bahasa Arab, ada banyak kata yang digunakan untuk satu hal. Misalnya melihat ini. Selain kata "ro-a" ada "nazhoro" (نظر) dan "bashoro" (بصر). Semuanya kalau diartikan ke bahasa Indonesia sama-sama melihat.  Tapi, jika ditelusuri lebih jauh ada perbedaan mendasar dari ketiganya. Kata "nazhoro" ini kegiatan melihat yang lebih kepada aktivitas indera penglihatan berupa mata. Misalanya. Saya melihat baju di jemuran. Nah, kegiatan melihat dengan mata ini, inilah "nazhoro". Lalu ketika kegiatan melihat tidak sekadar dengan mata, tapi diikuti oleh penglihatan otak atau berpikir, maka yang digunakan adalah "ro-a". Misalnya baj...

Keberuntungan, Kekuatan, dan Kearifan Lokal. (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-3)

Amar ma'ruf, "Ya-muruuna bil-ma'ruf" bukan sekadar landasan pacu bagi mereka yang ingin berangkat dakwah. Pun bukan tongkat untuk memukul mereka yang salah, apalagi mementung mereka yang (baru) "dianggap" salah atas nama dakwah.  Ali Imron ayat 104 yang nempel (munasabah) dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya pun tak melulu soal dakwah. Sebab turun surat ini pun terkait dengan interaksi sosial dan penyelesaian konflik antara beberapa orang dari suku Aus dan Khazraj yang hampir saja mereka beradu pedang dan kekuatan karena selisih paham.  Saat berinteraksi dengan siapapun, beda pendapat seringkali tak bisa dihindarkan. Bahkan ke mereka yang dianggap dekat sekalipun seperti keluarga, saudara, teman, hingga sahabat. Beda-beda itu lazim. Sunnatullah. Dan udah "bawaan oroknya" seperti itu.  Perbedaan itu tak jarang melahirkan perdebatan bahkan perselisihan. Ini terjadi, biasanya karena pandangan dan pola pikir yang bentuknya seperti kanebo kering. Kar...

Menafsir Gambar dan Teks Keberuntungan (Al-falah)

Kepastian itu samar. Pasti tapi tak pasti. Terlebih jika kepastian itu dikaitkan dengan bentuk. Sebab yang namanya bentuk, semuanya berpotensi berubah. Di situlah letak ketidakpastiannya. Gelas kopi yang terlihat pasti bentuknya bisa menjadi kepingan beling. Asbak rokok, meja, televisi,  Meski begitu, tak sedikit orang yang tetap mendambakan terjadinya kepastian dalam bentuk.  Menjadi juara di perhelatan AFF kemarin adalah dambaan Asnawi Mangkualam dan kawan-kawan di Timnas Indonesia. Pendambaan atas kepastian ini perlahan menjadi kekuatan untuk terus bertahan ataupun menyerang. Pun untuk para penonton dan pendukung timnas, dambaan kepastian menjadi juara adalah kekuatan untuk terus mendukung -melakukan sesuatu yang membuat kepastian semakin dekat dan terwujud. Tak hanya sepak bola, hampir di semua kegiatan manusia -perseorangan atau komunal- bentuk kepastian menjadi sesuatu yang begitu didamba. Pasangan muda mudi yang tengah kasmaran misalnya, mendambakan bentuk hubungan yang...

Akhlak, Sikap, dan Pakaian Keberuntungan (al-falaah)

Semakin ke sini, saya semakin mengamini bahwa apapun ada pola-pola yang membentuk sesuatu terjadi dan ujungnya dilakukan serta dialami oleh seseorang. Termasuk saya sendiri. Layaknya sebuah pakaian yang tercipta di sebuah konveksi. Lembaran kain adalah bahan pokok. Ini seperti daya pikir, bentuk pemikiran seseorang yang masih luas dan umum. Di titik ini, layaknya pandangan umum seseorang tentang sesuatu. Pandangan yang biasanya berdasar pada kekuatan konsensus yang terbentuk di sekitarnya.  Lembaran kain itu Kemudian diberi gambar pola. Pola badan, pola tangan, pola kerah, dan lain-lain. Pola-pola ini layaknya kejadian, suatu hal, unsur-unsur, dan faktor-faktor yang merupakan satu kesatuan tapi bisa dilihat secara terpisah.  Karena masing-masing bisa berdiri sendiri dan memiliki dunianya sendiri. Dan ini seperti pola pada kain yang dipotong. Ya, pola-pola pada kain itu kemudian dipotong menjadi satu kesatuan dan terpisah sendiri-sendiri.  Pola-pola inilah yang kemudian ak...

Keberuntungan (al-falaah) dan Akhlak dari Orang yang Memelihara Sholat (Harapan Baik)

Ayat ke-sembilan surat Al-Mu'minun kembali menegaskan tentang sholat yang bisa menjadikan seseorang (mukmin) beruntung. Yakni mereka yang bisa menjaga dan memelihara sholatnya.  والذين هم على صلواتهم يحافظون  Dalam tafsir Ibnu Katsir menjelaskan yang dimaksud menjaga dan memelihara sholat adalah mengerjakannya secara rutin dan tepat pada waktunya. Kemudian Ibnu Mas'ud menambahkan pengertiannya dengan mengatakan memelihara waktu-waktu sholat.  Hal tersebut seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim yang menyatakan bahwa Abdullah Ibnu Mas'ud pernah bertanya kepada Rosulullah tentang amal perbuatan apa yang paling disukai Allah? Rosul pun menjawab: sholat tepat pada waktunya. Ibnu Mas'ud bertanya apa lagi? "Berbakti kepada kedua orang tua," jawab Rosul. Ibnu Mas'ud tanya apa lagi. Rosulpun menjawab: jihad di jalan Allah. Penjelasan surat Al-Mu'minun pada ayat kedua dan ke-sembilan sama-sama tentang sholat. Bedanya, pada ayat kedua lebih mene...