Postingan

Menampilkan postingan dengan label beruntung

Syukur (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ar-Rum ayat 38. bag-2)

Surat Ar-Rum ayat 36-38 menyajikan gambaran tentang rahmat Allah. Tampilannya ada yang berupa rezeki. Pun berwajah musibah.  Pada ayat 36 tersaji gambaran sikap yang biasanya dianggap "lumrah" dan "fitrah". Saat dapat rezeki dan nikmat, gembira. Saat dapat musibah dan masalah, putus asa. Sikap tersebut disentil Allah pada ayat selanjutnya dengan penegasan; apapun yang tersaji di muka bumi adalah kehendak-Nya.  Jadi, jangan terlalu. Ketika dapat rezeki, ya jangan terlalu gembira. Apalagi sampai menganggap bahwa rezeki yang diperoleh semata-mata hasil usaha dan upaya manusia sendiri. No! Enggak begitu Bang!   Hakekatnya, Allah lah yang melapangkan rezekinya. Pun dengan mereka yang telah berupaya gigih dan keras untuk meraih rezeki tapi masih "seret", hakekatnya itu pun kehendak Allah. Jadi, gak usah terlalu sedih, apalagi sampai putus asa. Walaa tay-asuu min rohmatillah. Kalau begitu, maka yang perlu diupayakan adalah mendekati yang punya kehendak dan kuasa ...

Syarat Amar Ma'ruf Nahi Munkar (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-9)

Ya, melaksanakan amar ma'ruf nahi Munkar memang terlihat "sedikit ribet" bahkan rumit dan berat. Karenanya tepatlah diksi yang dipakai adalah "min", "minkum" pada hadits populer tersebut, pun pada Ali Imron ayat 104.  Meski begitu, bukan berarti tidak mungkin dan tidak bisa dilakukan. Siapapun, gimana pun  manusianya, sepertinya punya potensi untuk melakukan amar ma'ruf nahi Munkar. Asal terus belajar dan meningkatkan kapasitas serta kemampuan dirinya. Sebab sekali lagi amar ma'ruf nahi munkar memerlukan pendekatan (approach), metode, teknik, strategi tertentu, karena ini terkait ubah-mengubah, terkait perubahan. Lebih jauh, Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin malah menekankan tentang pelaksanan amar ma'ruf nahi munkar yang mesti memenuhi empat unsur. Pertama, muhtasib (pengawas/pelaksana). Kedua, muhtasab ‘alaih (objek yang diawasi/diajak). Ketiga, muhtasab fih (masalah). Dan Keempat, ihtisab (bentuk pengawasan/penanganan).   Keempat unsu...

Antara Mencegah dan Mengubah dalam Nahi Munkar (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-4)

Selain menyeru dengan kebaikan-kebaikan dan memerintah berdasar kearifan-kearifan lokal (ya-muruuna bil-ma'ruf), orang-orang beruntung (al-muflihuun) selanjutnya yang tertera di surat Ali Imron ayat 104 adalah mereka yang (bisa) mencegah kemungkaran (yanhauna 'anil-munkar). Saya jadi ingat, ada hadits yang populer untuk hal ini lalu seperti jadi pegangan bagi mereka yang melakukan sesuatu atas nama dakwah. Hadits kira-kira seperti ini:  من رأى منكم منكرا فليغيره بيده  فإن لم يستطع فبلسانه فإن لم يستطع فبقلبه فلذالك أضعف الإيمان Hadits ini setidaknya bisa dilihat pada lima kitab. Pertama, Shahih Muslim pada kitab al-iman Bab Bayanu Kaun al-Nahy 'an Munkar minal-Iman (bab penjelasan tentang eksistensi mencegah kemungkaran dari keimanan -penulis). Nomor haditsnya 186 dan 187. Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui jalur sanad Abu Bakar bin Abu Syaibah. Kedua, Sunan Abu Dawud pada kitab al-Shalat bab al-Khutbah Yaum al-Id. Nomor haditsnya 1142. Ada juga di kitab al-Malahim ...

Keberuntungan, Kekuatan, dan Kearifan Lokal. (Kriteria Orang-Orang Beruntung pada Surat Ali Imron ayat 104. bag-3)

Amar ma'ruf, "Ya-muruuna bil-ma'ruf" bukan sekadar landasan pacu bagi mereka yang ingin berangkat dakwah. Pun bukan tongkat untuk memukul mereka yang salah, apalagi mementung mereka yang (baru) "dianggap" salah atas nama dakwah.  Ali Imron ayat 104 yang nempel (munasabah) dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya pun tak melulu soal dakwah. Sebab turun surat ini pun terkait dengan interaksi sosial dan penyelesaian konflik antara beberapa orang dari suku Aus dan Khazraj yang hampir saja mereka beradu pedang dan kekuatan karena selisih paham.  Saat berinteraksi dengan siapapun, beda pendapat seringkali tak bisa dihindarkan. Bahkan ke mereka yang dianggap dekat sekalipun seperti keluarga, saudara, teman, hingga sahabat. Beda-beda itu lazim. Sunnatullah. Dan udah "bawaan oroknya" seperti itu.  Perbedaan itu tak jarang melahirkan perdebatan bahkan perselisihan. Ini terjadi, biasanya karena pandangan dan pola pikir yang bentuknya seperti kanebo kering. Kar...

Keberuntungan (Al-Falaah) antara Kausalitas dan Law of Attraction

Kemarin malam seorang laki-laki gondrong tiba-tiba cerita tentang sedikit hidupnya. Kami bertemu beberapa tahun lalu. Sampai sekarang, badannya selalu kurus. Meski begitu, pengetahuannya tentang filsafat barat hingga timur sangat ciamik. "Gue termasuk keluarga broken. Sebab ibu gue meninggal waktu gue kelas lima SD. Dan selanjutnya gue mesti hidup dengan ibu tiri," tuturnya.  Sambil menghisap rokok, ia cerita bahwa pernah mengalami peristiwa yang di luar logika. Saat itu, Minggu malam ia tidur di rumah bibinya. Antara sadar dan tidak, dia bermimpi membangunkan ibunya. Tapi perempuan itu tak kunjung melek. Ia pun bangun, dan ada sesak di dada, tapi nafasnya biasanya saja. Pun dengan air di matanya. Bukan karena sesak, bukan karena sakit, ia menangis begitu saja. Seperti ingin menangis saja tanpa perlu alasan. Paginya, ia berangkat ke sekolah masih dengan air mata. Meski tak sederas malamnya, tetap saja teman-teman sekolah bisa melihat dan mengejek kalau ia cengeng, padahal tid...